Alam Lestari, Masyarakat Sejahtera dan Pemerintah Maju dan Berkembang

Climate Change Biodiversity Loss : Mengenal dampak perubahan iklim dengan kehilangan spesies

Penulis : Rahmadi Aulana

Biodiversity mengacau pada variasi sumber daya hayati dari tingkat ekosistem, spesies, dan genetik. Biodiversity Loss merupakan sebuah terminologi untuk mendefinisikan hilangnya  Keanekaragaman hayati pada satu ekosistem.  Hilangnya  Keanekaragaman hayati dapat terjadi  secara lokal maupun dalam skala global. Hilangnya keanekaragaman hayati dapat terjadi melalui proses seperti kematian (termasuk kepunahan), migrasi, maupun pemindahan yang dilakukan oleh manusia. Faktor perubahan iklim akibat adanya aktivitas manusia dalam melakukan pembangunan perekonomian merupakan salah satu ancaman bagi biodiversitas yang berada pada suatu wilayah (Biodiversity Loss). Aktivitas manusia yang menghasilkan emisi gas rumah kaca merupakan salah satu sumber yang menyebabkan adanya perubahan iklim. Data IPCC, (2023 )[1] menunjukkan bahwa aktivitas manusia, terutama melalui emisi gas rumah kaca, jelas telah menyebabkan pemanasan global, dengan suhu permukaan global mencapai 1,1°C di atas suhu tahun 1850-1900 pada tahun 2011-2020.

Gambar 1: Grafik Perubahan Suhu Grafik batang animasi menunjukkan suhu global setiap tahun dari tahun 1976 (kiri) hingga 2023 (kanan) dibandingkan dengan rata-rata tahun 1901-2000. Tahun 1976 (bilah biru paling kiri) adalah saat terakhir dalam satu tahun suhu lebih dingin dibandingkan rata-rata abad ke-20. Tahun 2023 (paling kanan) mencetak rekor baru sebagai tahun terpanas.

Peta rata-rata suhu permukaan global tahun 2023 dibandingkan rata-rata tahun 1991-2020. Daerah yang suhunya lebih hangat dari rata-rata adalah warna merah, dan daerah yang lebih dingin dari rata-rata adalah warna biru. Semakin gelap warnanya, semakin besar perbedaannya dari rata-rata. Living Planet Index (LPI) merupakan indikator keadaan  Keanekaragaman hayati global, berdasarkan tren populasi spesies vertebrata dari seluruh dunia.

Data yang dikeluarkan dalam Living Planet Report oleh WWF (2022)[2],  Keanekaragaman hayati telah menunjukkan rata-rata penurunan kelimpahan relatif sebesar 69% populasi satwa liar yang dipantau antara tahun 1970 dan 2018.

Di dalam indeks ini  mencakup hampir 32.000 populasi spesies.

Gambar 2 : Living Planet Index (LPI)

Indonesia merupakan daerah dengan tingkat risiko Bidiversity Loss yang besar. Menggabungkan informasi berdasarkan daftar merah IUCN yang memberikan informasi distribusi spasial dan ancaman terhadap spesies menunjukkan bahwa Indonesia merupakan daerah Hotspot kehilangan Biodiversity yang tinggi menurut Harfoot  et al, 2021.

Wilayah hotspot didefinisikan sebagai lokasi yang memiliki 10% jumlah spesies berisiko tertinggi dari setiap ancaman utama (Harfoot  et al, 2021)[3]

Gambar 3 : Hotspot ancaman global

  • Bagaimana Pengaruh Perubahan Iklim terhadap Kehilangan Biodiversity

Peningkatan frekuensi dan intensitas bencana alam, kenaikan permukaan air laut, penurunan produktivitas tanaman dan hilangnya keanekaragaman hayati merupakan konsekuensi utama dari perubahan iklim[4]. Salah satu perubahan nyata yang terlihat dalam beberapa tahun terakhir adalah cuaca ekstrem dan tidak dapat diprediksi, serta peningkatan frekuensi dan intensitas bencana alam. Menurut laporan komprehensif World Meteorological Organization (WMO) yang diterbitkan pada Agustus 2023, secara global, kerugian ekonomi tahunan akibat bencana terkait iklim dan cuaca sangat signifikan meningkat sejak tahun 2000an[5]. Selain menimbulkan dampak terhadap manusia, adanya perubahan iklim juga menimbulkan adanya masalah besar bagi  Keanekaragaman hayati. Beberapa studi menunjukkan peningkatan perubahan iklim menimbulkan adanya kenaikan permukaan laut. Mencairnya gletser yang merupakan sumber mata air bagi beberapa satwa liar akan menyebabkan adanya kelangkaan air bagi manusia dan hewan dan akan menambah volume air laut yang akan mengakibatkan hilangnya beberapa habitat (terutama hutang mangrove) yang merupakan salah satu hotspot  Keanekaragaman hayati. Peningkatan suhu permukaan bumi juga akan semakin linear dengan peningkatan intensitas kebakaran lahan. Di Australia, lebih dari satu miliar hewan asli dilaporkan terbunuh dalam kebakaran tahun 2020, dan beberapa spesies serta ekosistem mungkin tidak akan pernah pulih (OXFAM International 2021)[6].

Gambar 4; Potret Kebakaran Hutan Yunani, Hewan Mati di Jalanan.

Maxwell dkk. ( 2019 ) mengulas 519 studi tentang respons ekologis terhadap peristiwa iklim ekstrem (siklon, kekeringan, banjir, gelombang dingin, dan gelombang panas) antara tahun 1941 dan 2015 yang mencakup amfibi, burung, ikan, invertebrata, mamalia, reptil, dan tumbuhan. 57 % dari seluruh satwa yang merupakan objek kajian memberikan respons negatif  dimana 31 kasus menunjukkan terjadi pemusnahan lokal dan 25% penurunan populasi[7]. Bellard et al (2013 ) mengkaji konsekuensi kenaikan permukaan laut sebesar 1–6 m di 10 hotspot keanekaragaman hayati kepulauan dan spesies endemiknya yang memiliki risiko kepunahan yang tinggi.

Studi mereka mengungkapkan bahwa 6 hingga 19% dari 4.447 pulau akan tenggelam seluruhnya tergantung pada kenaikan permukaan laut; tiga di antaranya, kepulauan Karibia, Filipina, dan Sundalandia, yang merupakan wilayah hotspot keanekaragaman  bagi 300 spesies endemik[8].

Adanya pengaruh perubahan iklim dengan meningkatnya durasi musim panas akan meningkatkan laju pengeringan lahan basah yang mengurangi habitat amfibi (Corn 2005)[9]. Ketika suhu di habitat aslinya semakin hangat, spesies cenderung berpindah ke tempat yang lebih rendah dan untuk mencari suhu yang sesuai dan kondisi lingkungan lainnya. Penelitian yang dilakukan Kusrini et al (2017)[10] di Gunung Gede menunjukkan adanya pola pergeseran amfibi ke bagian lebih rendah yang diduga adalah bagian dari adaptasi dengan lingkungan. Akan tetapi wilayah di dataran rendah memiliki risiko kerusakan habitat lebih besar dibandingkan wilayah di bagian atas karena kemudahan akses.

  • Langkah-Langkah Mitigasi

Conference of Parties (COP) Konvensi PBB tentang Perubahan Iklim didirikan pada tahun 1992 berdasarkan Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) untuk membahas respons global terhadap perubahan iklim. Hingga saat ini telah di laksanakan 28 Konvensi, dan yang terakhir di lakukan di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) yang dikenal dengan COP28. COP 28 akan fokus pada empat perubahan paradigma: a) Mempercepat transisi energi dan mengurangi emisi sebelum tahun 2030; b) Melakukan transformasi pendanaan iklim, dengan memenuhi janji-janji lama dan menetapkan kerangka kerja untuk kesepakatan baru di bidang pendanaan; c) Menempatkan alam, manusia, kehidupan, dan penghidupan sebagai inti aksi iklim; d) Dan Memobilisasi untuk COP paling inklusif yang pernah ada. Langkah-langkah mitigasi utama terhadap perubahan iklim sudah jelas; hal ini mencakup pengurangan emisi gas rumah kaca, pencegahan deforestasi dan peningkatan tutupan hutan, mengurangi emisi karbon dengan mengikuti teknologi ramah iklim. hutan tropis menampung 62% spesies vertebrata darat global, dua kali lipat jumlah yang ditemukan di bagian lainnya di Bumi. Hingga 29% spesies vertebrata global merupakan endemik hutan tropis, dan lebih dari 20% spesies tersebut terancam punah.[11] Munculnya upaya konservasi berupa restorasi ekosistem terutama habitat yang merupakan hotspot keanekaragaman hayati utama seperti area hutan hujan tropis yang memiliki banyak tipe ekosistem merupakan salah satu upaya terintergrasi yang menghimpun upaya konservasi spesies dan upaya mereduksi efek gas rumah kaca di atmosfer.

Leave a Comment

BERITA

ARTIKEL