
Setelah terbitnya SK Bupati Ketapang Nomor 253/DLH-C/2026 tentang Pembentukan Tim Pemantauan Perubahan Tutupan Lahan Kabupaten Ketapang Tahun 2026, diperlukan peningkatan kapasitas para pemangku kepentingan untuk mengimplementasikan protokol pemantauan tersebut. Pelatihan terkait protokol pemantauan perubahan tutupan lahan menjadi tindak lanjut untuk menyiapkan TPDD dan para pihak dalam melaksanakan pemantauan secara mandiri dan konsisten dengan menggunakan metode yang terstandar.
Kegiatan peningkatan kapasitas ini melibatkan pemerintah daerah, sektor swasta, NGO, dan lembaga masyarakat agar dapat berpartisipasi dalam pemantauan perubahan tutupan lahan di Kabupaten Ketapang.
Pelatihan dilaksanakan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang bekerja sama dengan Yayasan Lansekap Nusantara Hijau (YLNH) dan IDH. Kegiatan berlangsung di Hotel Aston Ketapang, sedangkan praktik lapangan dilaksanakan di Kecamatan Muara Pawan dan Matan Hilir Selatan pada Rabu–Kamis, 2–3 September 2026.
Pelatihan diikuti 51 peserta yang berasal dari perwakilan instansi pemerintahan di Kabupaten Ketapang, perusahaan kelapa sawit dan kehutanan, NGO, serta perwakilan masyarakat.
Pelatihan bertujuan meningkatkan kapasitas para pemangku kepentingan di Kabupaten Ketapang dalam melakukan pemantauan perubahan tutupan lahan secara mandiri, terstruktur, dan berbasis data spasial. Selain itu, kegiatan ini bertujuan menstandarkan metode pemantauan perubahan tutupan lahan lintas OPD, BKSDA, taman nasional, NGO, LPHD, dan sektor swasta, serta mendukung TPDD dalam melaksanakan tugas yang berkaitan dengan implementasi protokol pemantauan perubahan tutupan lahan Kabupaten Ketapang.
Acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh seluruh peserta, kemudian dilanjutkan dengan laporan panitia kegiatan. Sambutan pembukaan disampaikan oleh Samsul Ulum, Landscape Manager Ketapang Yayasan Lansekap Nusantara Hijau.


Dalam sambutannya, Samsul mengatakan bahwa pelatihan ini merupakan tindak lanjut setelah terbitnya SK Tim Pemantauan Perubahan Tutupan Lahan Kabupaten Ketapang beserta protokolnya. Selain itu, pelatihan bertujuan membekali peserta dengan kemampuan melakukan verifikasi alert di lokasi kerja masing-masing.
“Diharapkan setelah pelatihan ini para peserta mau dan mampu melaksanakan verifikasi alert perubahan tutupan lahan secara mandiri,” ujar Samsul.
Sambutan pembukaan kemudian disampaikan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang, Eko Harfianto, ST., M.T. Dalam sambutannya, Eko menyampaikan bahwa pelatihan tersebut memberikan manfaat bagi pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan, khususnya dalam memahami aspek teknis pemantauan perubahan tutupan lahan yang dapat diimplementasikan dalam tugas dan rutinitas masing-masing.
“Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi pemerintah daerah dan semua stakeholder. Pelatihan ini memberikan pemahaman kita tentang teknis yang dapat diimplementasikan dalam tugas dan rutinitas kita dalam menjaga keberlangsungan lanskap di Kabupaten Ketapang agar dapat dikelola lebih baik lagi,” kata Eko.
Setelah sambutan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang secara simbolis membuka kegiatan pelatihan.
Rangkaian pembukaan kemudian dilanjutkan dengan penyerahan sertifikat peserta pelatihan operator GIS analisis perubahan tutupan lahan. Sertifikat diserahkan oleh Eko Harfianto kepada perwakilan peserta pelatihan operator GIS analisis alert perubahan tutupan lahan yang telah dinyatakan lulus.






Pada hari pertama, peserta mendapatkan materi mengenai hasil pemantauan perubahan tutupan lahan Kabupaten Ketapang yang disampaikan oleh Ridwan, Kepala Bidang Ekonomi dan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Bappeda Ketapang. Materi berikutnya membahas SK Bupati Ketapang tentang Tim Pemantauan Perubahan Tutupan Lahan Kabupaten Ketapang yang disampaikan oleh Sri Windaryati, S.Si., M.Si., Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang.
Materi kemudian dilanjutkan dengan pembahasan Go-No Go Area dan prosedur protokol yang disampaikan oleh Samsul Ulum dari Yayasan Lansekap Nusantara Hijau.
Pada sesi siang, peserta mendapatkan materi analisis alert yang disampaikan oleh Luwin dari YLNH dan materi verifikasi lapangan oleh Lutfian Nazar dari YLNH. Pada sore hari, kegiatan dilanjutkan dengan materi analisis hasil verifikasi lapangan oleh Luwin, kemudian materi penyusunan laporan perubahan tutupan lahan yang disampaikan oleh Samsul Ulum.
Hari kedua diisi dengan praktik lapangan verifikasi alert di Kecamatan Muara Pawan dan Matan Hilir Selatan. Peserta dibagi menjadi empat kelompok dan melakukan praktik pengambilan data lapangan dalam proses verifikasi alert.




Setelah praktik lapangan, peserta melanjutkan dengan pengolahan data hasil verifikasi. Masing-masing kelompok kemudian mempresentasikan hasil praktik lapangan di hadapan peserta lainnya.
Pada akhir kegiatan, peserta mengikuti post-test untuk mengetahui peningkatan pemahaman terhadap materi yang telah diberikan selama pelatihan. Peserta dengan nilai terbaik dan peningkatan pemahaman tertinggi mendapatkan penghargaan dari YLNH.



Pelatihan ditutup oleh Sri Windaryati, S.Si., M.Si., Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang.
Dalam sambutan penutupan, Sri menyampaikan apresiasi atas kelancaran kegiatan dan antusiasme peserta yang tetap mengikuti pelatihan hingga hari terakhir.
“Alhamdulillah acara berjalan lancar dan sukses. Peserta mengikuti kegiatan dengan semangat karena sampai hari terakhir peserta masih tergolong lengkap. Kami berharap para peserta mau mempraktikkan kegiatan verifikasi lapangan di lokasinya masing-masing saat ada permintaan verifikasi dari TPDD Kabupaten Ketapang,” ujar Sri.
Setelah penutupan, dilakukan penyerahan sertifikat pelatihan secara simbolis kepada perwakilan sektor swasta, NGO, dan pemerintah. Sertifikat diserahkan oleh Sri Windaryati dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang.



Salah satu peserta, Afrizal dari PT Sinarmas Kalimantan Barat, mengatakan bahwa pelatihan tersebut memberikan pengetahuan baru mengenai proses verifikasi perubahan tutupan lahan yang dapat diterapkan di lingkungan perusahaan.
“Setelah mengikuti pelatihan ini, banyak ilmu yang saya dapatkan, terutama tentang cara melakukan verifikasi perubahan tutupan lahan di perusahaan kami. Ke depannya, semoga apa yang telah kami dapatkan dapat kami terapkan di perusahaan,” kata Afrizal.
Sementara itu, Munawar Fuadi dari PT Cita Mineral Investindo Tbk (CMI) mengatakan bahwa pelatihan memberikan tambahan pengetahuan mengenai pemantauan deforestasi dan membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak.
“Setelah mengikuti pelatihan ini ada penambahan ilmu tentang bagaimana ke depannya dapat bekerja sama dalam memantau deforestasi di perusahaan. Mudah-mudahan dengan program ini ke depannya kita bisa lebih baik lagi,” ujarnya.
Delitya Islamy Putrie dari PT NAA/Nova Groups juga menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan tersebut. Menurutnya, pelatihan memberikan wawasan baru mengenai pemantauan perubahan tutupan lahan dan peran TPDD.
“Pada kesempatan ini saya mendapatkan insight dan banyak informasi tentang pemantauan perubahan tutupan lahan dan TPDD. Saya banyak belajar dari tim YLNH dan DLH, apalagi kami diajak turun langsung ke lapangan untuk melakukan verifikasi terhadap data alert. Kami berterima kasih kepada YLNH yang bekerja sama dengan DLH untuk menyelenggarakan acara ini selama dua hari. Saya berharap kegiatan ini dapat terus dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya,” katanya.
Kristiana Sulistyani dari KPH Ketapang Utara mengatakan bahwa kegiatan tersebut membuka wawasan mengenai perubahan tutupan lahan yang terjadi di Kabupaten Ketapang. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat menjadi dasar dalam menyusun program untuk menjaga dan memulihkan fungsi hutan.
“Kegiatan ini membuka wawasan kita tentang perubahan tutupan lahan yang semakin luas dan semakin banyak di daerah ini, sehingga kita dapat membuat program ke depannya bagaimana kita menyiasati dan mengembalikan fungsi hutan seperti sediakala,” ujarnya.
Pada kesempatan terpisah, Ketua YLNH Ario Bhirowo mengatakan bahwa pelatihan tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat bagi seluruh pemangku kepentingan di Kabupaten Ketapang.
“Kami berharap pelatihan ini bermanfaat bagi semua stakeholder di Ketapang. YLNH berharap para peserta mau dan mampu melaksanakan kegiatan verifikasi lapangan secara partisipatif di lokasinya masing-masing,” kata Ario.
