Alam Lestari, Masyarakat Sejahtera dan Pemerintah Maju dan Berkembang

Melacak Transformasi Lanskap: Dampak Konversi Hutan ke Kebun Sawit terhadap Interaksi Manusia-Gajah

Rahmadi Aulan

World Wildlife Day, 03 March 2024.

JOIN US IN CONNECTING PEOPLE AND PLANET: EXPLORING DIGITAL INNOVATION IN WILDLIFE CONSERVATION

WWD 2024 berfokus pada inovasi digital dan menekankan bagaimana teknologi dan layanan konservasi digital dapat mendorong konservasi satwa liar, perdagangan satwa liar yang berkelanjutan dan legal, serta hidup berdampingan antara manusia dan satwa liar. Pendekatan hidup berdampingan antara manusia dan satwa liar merupakan salah satu tujuan yang ingin di tingkatkan dalam perayaan ini. Di beberapa daerah yang berdekatan dengan habitat Gajah, terjadi konflik antara satwa tersebut dengan manusia.

Dalam beberapa hari terakhir ini terjadi adanya konflik Konflik antara manusia dan gajah yang berujung perusakan fasilitas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi. Humas BKSDA Jambi, Zuhra, mengatakan konflik marak terjadi di wilayah yang bersinggungan dengan habitat gajah Sumatera. Persoalannya, menurut BKSDA, kebun-kebun masyarakat itu terletak di Hutan Produksi Terbatas (HPT) penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Kasus ini berawal ketika masyarakat Desa Muara Danau melaporkan ada tiga ekor gajah Sumatera yang merusak tanaman sawit mereka. Dalam aksi itu, mereka merusak satu unit mobil lapangan dan dua unit sepeda motor milik BKSDA, lalu merusak dan melempari mess FZS, serta mengancam tim yang ada di sana.

Delapan puluh persen kantong gajah Sumatra berada di luar kawasan konservasi. Lebih dari separuh kantong gajah di luar kawasan konservasi berada dalam konsesi: HPH, HTI, tambang, dan sawit (55.32 %) dan di luar konsesi (44.67%). Pembelajaran dari konflik ini menunjukkan dalam skala yang lebih luas bukan tidak mungkin satwa tersebut akan masuk dengan area konsesi usaha kehutanan. Kajian Lingkungan penting dilakukan di area tersebut untuk memastikan berbagai aktivitas produksi perusahaan yang berdampak terhadap keanekaragaman hayati (biodiversitas), kemudian mengidentifikasi cara untuk mengembangkan praktek manajemen yang lebih baik.

Beberapa pendekatan iilmiah yang dapat dilakukan adalah penilaian HCV/NKT di area konsesi yang berdekatan dengan habitat satwa liar tersebut. Pendekatan HCV/ABKT dirancang untuk mengidentifikasi sebuah kawasan yang memiliki nilai konservasi tinggi dan memenuhi ke-6 kategori. Dengan adanya kajian tersebut maka perusahaan harus berkomitmen untuk melindungi area yang teridentifikasi secara independen sebagai NKT di dalam area Konsesi sebagai Upaya untuk upaya menjaga keberlanjutan usaha di masa mendatang. Sehingga tercipta hidup berdampingan antara manusia dan satwa liar. 

sumber : BBC News Indonesia

Leave a Comment

BERITA

ARTIKEL